Tampilkan postingan dengan label Obesitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obesitas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2010

Apabila hendak menyalin teks berikut, mohon sertakan dengan SUMBERNYA.

NEW YORK, - Cuaca yang tidak mendukung tak pelak membuat anak-anak rentan terhadap penyakit yang menyerang pernafasan seperti batuk atau pilek. Namun, berhati-hatilah, karena menurut penelitian terbaru, anak yang terkena sejenis virus penyebab pilek (cold) berisiko mengalami obesitas atau kegemukan saat menginjak dewasa.

Kajian para ahli dari University of California di  San Diego Amerika Serikat menunjukkan, infeksi sejenis virus pada anak dapat memicu obesitas. Virus tersebut dapat menyerang sel-sel lemak sehingga membuat sel-sel memperbanyak diri.

"Virus yang menyebabkan batuk dan pilek dan menyebarkan lewat tangan kotor ini juga bisa menyerang sel-sel lemak dan menyebabkan mereka berkembang biak. Peningkatan ini dapat memicu penambahan berat badan yang signifikan," kata salah satu peneliti, Dr Jeffrey Schwimmer.

Dalam kajiannya, para ahli memeriksa 124 anak berusia 8-18 tahun untuk melihat perkembangan antibodi mereka setelah sistem imunnya diinfeksi adenovirus 36.

Hasilnya menunjukkan, antibodi hanya ditemukan pada 15 dari 67 anak-anak obesitas. Sedangkan pada kelompok non-obesitas, hanya ditemukan 4 dari 57 anak. Selain itu, anak-anak yang pernah terkena virus ini berat badannya rata-rata lebih tinggi 23 kilogram dibanding anak yang tidak terserang virus.

Para ahli tidak dapat memastikan apakah fenomena virus ini dapat menjelaskan pemicu epidemi obesitas di negara-negara barat ketika dikaitkan dengan faktor-faktor lain seperti olahraga dan pola makan yang buruk.

Namun, Dr Jeffrey  memuat risetnya dalam Jurnal Pediatrics menyatakan, "Ini adalah waktu yang tepat bagi kami untuk mengembangkan tingkat pemahaman yang lebih baik untuk mendukung upaya pencegahan maupun pengobatan dibanding sekedar menyalahkan virus tersebut. Data-data ini menambah bukti bahwa infeksi dapat menjadi penyebab atau kontributor untuk obesitas, " lanjut Dr. Schwimmer.(KOMPAS.com)

Sabtu, 18 September 2010

Apabila hendak menyalin teks berikut, mohon sertakan dengan SUMBERNYA.


Remaja yang tidur kurang dari delapan jam perhari dan makan malam dengan lebih banyak lemak dan gemar mengkonsumsi makanan ringan terancam mengalami obesitas. Demikian hasil penelitian terbaru yang dirilis tim peneliti Amerika Serikat. Mereka mengatakan tidur terlalu sedikit dapat mengakibatkan perubahan kronis dalam makanan yang dapat meningkatkan risiko obesitas, terutama pada anak perempuan.

Sebelum studi telah menunjukkan bahwa tidur terlalu sedikit dapat menyebabkan kenaikan berat badan, tapi temuan baru ini menunjukkan dimana kalori ekstra berasal.

Meningkatkan asupan makanan berlemak, yang biasanya tinggi kalori, dapat meningkatkan asupan kalori secara keseluruhan setiap hari, dan jika itu terjadi secara rutin, dapat mengakibatkan kelebihan lemak. "Demonstrasi pola diet kronis diubah pada remaja dengan tidur yang lebih singkat memberikan wawasan tentang mengapa tidur yang lebih singkat telah dikaitkan dengan obesitas dalam penelitian eksperimental dan observasional sebelumnya," kata Dr Susan RedLine dari Brigham and Women's Hospital dan Beth Israel dari Deaconess Medical Center di Boston.

Dr RedLine dan rekannya mempelajari 240 remaja berusia 16-19 mengambil bagian dalam studi. Tidur mereka dimonitor di rumah dengan alat band pada pergelangan tangan dan asupan makanan diukur dengan wawancara dilakukan oleh staf terlatih. Hasilnya, mereka yang kurang tidur atau yang memiliki pola diet yang serampangan cenderung mengalami obesitas.

Tim peneliti menemukan bahwa setiap jam tidur tambahan menurunkan kemungkinan makan jumlah kalori tinggi dari makanan ringan dengan rata-rata 21 persen. Anehnya,  mereka menemukan hasil secara statistik signifikan pada anak perempuan, tapi tidak pada anak laki-laki. Meskipun tidak jelas mengapa, tim mengatakan mungkin bahwa gadis remaja lebih cenderung beralih ke makanan untuk alasan emosional daripada anak laki-laki, tetapi hal ini masih perlu dipelajari.

Hanya 34 persen dari remaja dalam penelitian ini tidur selama rata-rata delapan jam atau lebih. Menurut American Academy of Sleep Medicine, remaja membutuhkan setidaknya sembilan jam tidur untuk merasa waspada dan beristirahat.(rps/rpbk) (voa-islam.com)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Terima Kasih Banyak Sudah Berpartisipasi Mengkik Iklan Dibawah Ini!

Berkah Herbal Banner 11